Cerpen Terbaru 2012

Updated at: Friday, October 28, 2011.
Under Category: Cerpen

Cerpen Terbaru 2012 ~ Buat kamu yang suka Cerita Pendek (CERPEN), Alvien Rizki punya kumpulan cerpen terbaru 2012, cerpen cinta 2012, cerpen romantis, cerpen 2012 online yang pasti belum pernah kamu baca. Silahkan simak selengkapnya untuk cerpen terbaru 2012.
Cerpen Terbaru 2012

Cerpen Terbaru 2012


-+-+-+-
Siang itu, Rangga pulang dengan wajah masam. Seragamnya kotor pun begitu tasnya. Tanpa salam, seperti yang biasa ia ucapkan ketika pulang dan masuki rumah, Rangga, langsung menuju kamarnya. Di kamar, kudengar ia melemparkan tasnya begitu saja di pojok kamar. Lalu segera masuk ke kamar mandi. Suara shower yang menyala dan kecipak air, meyakinkanku bahwa ia mandi.

Kubatalkan niat menunggunya di kamar. Kusiapkan hidangan makan siang. Nugget tuna kesukaannya, akhirnya sukses juga kubuatkan. Setelah beberapa kali gagal, dan harus berulangkali mencari resep di mbah google. Aku yakin, Rangga pasti menyukainya.

Sudah satu jam lebih Rangga di kamar. Ia tak muncul-muncul, dan mengajakku makan siang bersama. Hati pun mulai gelisah. Kudekati kamarnya. Kuketuk pintu itu pelan-pelan. Tak ada jawaban dari dalam.

"Rangga, boleh mbak, masuk…?" tanyaku lembut.

Hening. Biasanya tak menunggu lama pintu itu langsung dibukakan. Aku pun memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Ketika pintu sudah terbuka, kuarahkan pandanganku ke tempat tidur. Tak ada. Kuamati ruang kamarnya, tak kutemukan ia. Kulihat, pintu ke arah taman belakang terbuka.

Rumah kami memiliki dua taman. Taman depan dan taman belakang. Tapi yang lebih luas adalah taman belakang. Dua kamar yang berada di belakang, dihubungkan dengan taman belakang. Setiap kamar memiliki pintu khusus menuju langsung ke taman. Tujuannya, selain mendapatkan suasana asri juga mempermudah jalur yang ditempuh.

Suatu hari ketika kutanyakan alasan mengapa ayah mendesainnya demikian, ayah menjawab dengan santai, "Agar kalian bisa mendapatkan udara lebih segar".

Perancang bangunan rumah ini adalah ayah sendiri. Ayahku adalah seorang arsitek. Sementara ibu, seorang desainer interior. Kombinasi keduanya memang klop dalam bidang usaha properti. Maka ketika keduanya memutuskan melepaskan pekerjaan dari sebuah perusahaan dan mendirikan usahanya sendiri, tak mengherankan, sukses diperoleh.

Kuakui, keduanya sama-sama sibuk bekerja. Kupahami hal itu dengan tujuan, masa depan yang baik untuk aku dan Rangga. Setelah itu, Mbok Darmi, satu-satunya teman sejati kami. Mbok Darmi sudah ikut menjadi pengasuh ibu sejak ibu kecil. Karena itu, kedekatan kami sudah seperti keluarga. Kupercayakan segala hal pada Mbok Darmi. Termasuk, ketika pada suatu hari, emosiku tak tertahan dan aku lebih memilih Mbok Darmi menjadi teman curhat ketimbang pada ibuku.

Curhat dengan Mbok Darmi, memberikan ketenangan di hati. Ia pasti tak lupa akan menyematkan nasehat yang jarang sekali kudengar dari orang perkotaan. Tak lupa, belaian lembut di kepala selalu ia lakukan. Dan aku, sampai tertidur dibuatnya.

Rangga, kudapati sedang memainkan kakinya di tepi kolam renang. Memandangi bayangannya di air. Sesekali, kulihat ia menghembuskan nafas begitu berat. Benar, aku tak pernah mendapatinya seperti ini.

Kudekati ia. Perlahan, aku duduk di sampingnya. Kucelupkan kakiku ke tempat yang sama. Lalu kumasukkan tanganku ke dalam air. Kemudian kujatuhkan beberapa tetes air tepat di atas bayangan wajah Rangga. Dan bayangan itu pun pecah, membentuk gelombang yang semakin menjauh. Aku pun tertawa, mencoba menghiburnya. Rangga menatapku, lalu kembali menatap langit. Wajah itu tetap mendung.

"Langit hari ini biru sekali. Mbak yakin, hari ini hujan tidak akan turun..," ucapku sambil tersenyum memandangi langit yang sama.

Masih tak kudengar suara dari bibirnya. Biasanya, Rangga akan mengajukan banyak pertanyaan atau komentar. Tapi kali ini, segalanya terasa hanya angin yang berbisik tenang.

Aku pun jadi terbawa suasana. Kupandangi sekali lagi bayangan kami berdua pada air di kolam renang.

"Tak kusangka, wajahku semakin hari semakin tua. Sana-sini penuh keriput. Huh, harus mulai cari polesan nih. Kata teman mbak, pakai lapisan porselin, wajah jadi akan lebih terlihat mengkilap. Benar, nggak ya…?" desahku pelan.

Rangga pun tiba-tiba tertawa keras. Saking kerasnya, hingga membuat Mbok Darmi, keluar dari dapur.

"Lho, ada apa Mas Rangga? Kok tampaknya lucu sekali…" tanya Mbok Darmi kebingungan.

"Itu lho Mbok, Mbak Laras ingin wajahnya dimasker dengan lapisan porselin…" ucapnya sambil terus tertawa memegangi perutnya.

"Benar kok Mbok. Kata teman Laras, dengan lapisan porselin, wajah kita akan terlihat licin dan mengkilat…" jawabku dengan mimik serius.

"Benar, hingga buat lalatpun terpeleset dan takkan mau mendekat lagi. Kapok..!!" seru Rangga sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Mbok Darmi tampak semakin bingung. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Hal itu membuat Rangga benar-benar semakin geli. Ia pun tertawa hingga guling-guling di tepi kolam.

"Ini masalah apa toh, Mbak Laras. Simbok kok semakin tak mengerti. Kalau porselin memang licin dan mengkilat. Seperti yang di dapur itu lho. Simbok sendiri kadang mengaca di atasnya," jawab Mbok Darmi tersipu malu.

Rangga semakin tak tahan. Ia pun langsung terjatuh ke dalam kolam. Aku pun akhirnya jadi tak mampu lagi menahan tawa. Namun suara omelan Mbok Darmi padaku, membuatku menghentikan tawa.

"Mbak Laras ini bagaimana? Adiknya jatuh malah ditertawakan!" Omel Mbok Darmi, dan segera menuju kolam. Namun sebelum sampai, Rangga telah muncul dan menaikkan pinggulnya ke tepi.

"Mbok, Mbok Darmi tahu tidak apa yang ditanyakan Mbak Laras, padaku tadi?" tanya Rangga, ketika Mbok Darmi sudah berjongkok di sampingnya.

"Tidak tahu Mas. Memang Mbak Laras tanya apa?" tanya Mbok Darmi sambil mengkerutkan dahinya.

"Mbak Laras tadi tanya, apakah benar lapisan porselin bisa digunakan untuk menghaluskan dan melicinkan wajah," jawab Rangga sambil terus tertawa.

"Hah?? Tidak salah Mbak Laras?? Porselin…?? Bagaimana caranya…??" tanya Mbok Darmi dengan mimik serius.

"Diamplaskan, Mbok…," jawab Rangga sekenanya.

Tawa pun pecah. Aku benar-benar sudah tak tahan menahan tawa yang sejak tadi kutahan. Rangga pun semakin geli.

Mbok Darmi, tampak masih kebingungan. Lalu berdiri, sambil tersenyum dan berkata, "Hati-hati Mbak Laras. Tidak usah aneh-aneh. Wajah Mbak Laras sudah cantik, mulus dan licin. Itu pasti hanya gosip sumbang. Bisa-bisa, wajah Mbak Laras nanti seperti ubin di tepi kolam.."

Tak lama, Mbok Darmi pun pamit untuk meneruskan pekerjaannya. Namun baru beberapa langkah, ia membalikkan badannya.

"Mas Rangga, jangan lupa, habis berenang nanti makan siang dengan Mbak Laras. Sudah sejak pagi Mbak Laras belum mengisi perutnya. Katanya ingin makan siang bersama sang adik tercinta".

Mbok Darmi sudah sepuh. Ayah sudah berulangkali meminta Mbok Darmi untuk istirahat. Namun, keinginan Mbok Darmi untuk mengabdi begitu besar. Akhirnya, kami semakin rekat, seperti tak pernah ingin satu sama lain terpisah.

Rangga terdiam ketika Mbok Darmi berlalu. Lalu menatap wajahku lekat. Aku menghampirinya. Kemudian kuajak ia masuk dan berganti pakaian.

"Harus mandi lagi, nih.." ucapnya sambil tersenyum nakal.

Ia pun berlari menuju kamarnya. Dan aku menunggunya di meja makan.

Hari ini, Rangga tak makan banyak. Selesai makan, ia pamit dengan alasan ingin belajar. Wajah itu masih tampak menyimpan sejuta rahasia. Ada luka, namun tak terlihat ketika mata tak ingin lebih dalam melihat hatinya.

Kuhampiri kamarnya. Kudapati Rangga sedang asyik memandangi langit-langit rumah.

"Geser dikit dong…," desakku sambil menidurkan tubuhku di sampingnya.

Adikku berusia dua belas tahun. Tapi kalau dilihat dari segi fisik, ia termasuk bongsor. Karena itulah, orang lebih sering menilai ia sudah berusia di atas lima belas tahun.

"Mbak Laras kok tidur di sini, kenapa tidak di kamar sendiri saja. Hari ini, Rangga sedang tak minat untuk sebuah perdebatan yang panjang..," ucapnya, sambil menjulurkan lidahnya.

"Hiii… kok jadi kayak penunggu rumah di depan itu ya..," candaku cuek.

"Biar, nanti Mbak Laras tinggal kugigit," jawabnya cepat dan bersiap-siap menggigitku.

"Weit. Sebelum itu terjadi, akan kugigit lebih dahulu..". Kami pun bergaya seperti binatang berkaki empat hendak saling menyerang. Namun tak lama, karena setelah itu, ruang kamar itu menjadi penuh tawa.

Dan langit-langit rumah menjadi pelampiasan mata kami kembali.

"Betapa menyenangkan hari ini. Lebih menyenangkan dari hari-hari sebelumnya..," ucapku senang.
"Kenapa Mbak Laras…?" tanya Rangga penasaran.
"Karena hari ini, langit itu benar-benar tidak jadi hujan…" jawabku sambil tersenyum bahagia.
Kemudian, ruang itu hening kembali.

"Maaf Mbak, hari ini kubuat langit itu mendung..," jawabnya pelan.
"Kumaafkan," ucapku cepat sambil menatapnya lekat-lekat.

Rangga pun tersipu malu. Aku segera berdiri dan berlalu menuju pintu kamar. Sebelum keluar, kupesankan sesuatu untuknya. "Nanti malam, sekitar jam sembilan, jangan lupa pakai sweatermu ya. Kita jalan-jalan sebentar lihat langit malam..". Kukedipkan mataku, tanda salam sayang untuknya.

Malam, jam sembilan, Rangga sudah menantiku di bangku taman. Ia memandangi bintang lebih dulu daripadaku.

"Malam adikku. Sudahkah engkau melihat bintang jatuh?" candaku.
"Bintang jatuh? Benarkah malam ini ada bintang jatuh?" tanyanya antusias.

"Tidak, aku hanya bercanda". Kujawab sambil tertawa.

Lalu kusandarkan punggungku di bangku taman. Kurebahkan kepalanya di bahuku. Kubelai lembut rambutnya. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan.

"Kau tahu, adikku. Di atas sana, bintang-bintang itu selalu bahagia. Mereka tak pernah mengeluh apalagi menangis. Walau ketidakadilan itu bisa kita katakan terjadi pada mereka," ucapku dengan mimik wajah sedih.

"Kenapa begitu, Mbak?" tanyanya penasaran.
"Karena mereka hanya bisa kita lihat pada malam hari. Padahal bisa jadi, mereka ingin juga bisa terlihat pada siang hari," jawabku tersenyum.
"Lantas mengapa pada siang hari mereka tidak muncul? Apakah itu juga atas kuasa Tuhan..?" tanyanya ingin tahu.
"Benar, itu atas kuasa Tuhan. Karena jika tidak demikian, maka mereka tidak akan bisa mengkerlipkan cahayanya," jawabku sambil membelai rambutnya.
"Mengapa demikian Mbak..? Wah, Mbak Laras membuatku jadi semakin penasaran…?" tanyanya sambil memeluk lututnya.

Malam semakin dingin. Angin berhembus semakin kencang.

"Kau tahu, cahaya apa yang paling terang di siang hari?" tanyaku padanya.
"Matahari!" jawabnya singkat.
"Nah, jikalau bintang-bintang itu hadir di siang hari, mungkinkah kerlipnya akan tampak?" tanyaku kembali.
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Mengapa bisa demikian?" tanyaku sambil tersenyum.
"Karena terangnya matahari akan membuat kerlipnya jauh tak terlihat. Mungkin itulah sebabnya Tuhan menciptakan malam. Agar mereka bisa terlihat indah…," jawabnya dengan penuh percaya diri.
"Lantas….," tanyaku mengambang agar kalimatku diteruskan.
"Tuhan itu Maha Adil ya, Mbak..," Rangga meneruskan sambil tersenyum bahagia.

"Ya, Tuhan menciptakan dan menetapkan sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Jikalau sudah sesuai dengan kebutuhan, maka ketika itu bisa diterima dengan penuh ketulusan akan tampak lebih indah dan berarti," tambahku.

Lalu kupandangi wajahnya. Kulihat Rangga seperti mencari-cari sesuatu dalam angan-angannya. Kadang wajah itu begitu terlihat serius, seperti lipatan kertas. Ditekuk kuat. Kemudian menghembuskan nafas dan tersenyum padaku begitu ringan.

"Terima kasih, Mbak. Akan kuingat ini. Masalahku besok akan kuselesaikan dengan bijak. Seperti kerlip bintang yang bersinar indah dari bola mata Mbak Laras," ucapnya cepat sambil mengecupkan bibirnya di pipiku. Lalu bergegas pergi untuk pamit tidur.

Ketika kutatap langit, kulihat satu bintang yang cukup terang mengedipkan sinarnya untukku. Bintang merah, lambang semangat baru dan masa depan yang ceria.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

-+-+-+-
-+-+-+-
Namaku Rianti. Aku lahir tanggal 15 Maret 1982. Tepatnya, aku lahir dini hari, ketika orang terlelap dalam mimpi. Aku selalu mengingat setiap ulang tahunku, karena dengan begitu, aku tahu kapan setiap detik itu sangat berharga. Dan ketika usia itu bisa aku lewati, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan untuk melalui hidup lebih lama lagi. Menyelesaikan apa yang sudah kumulai namun belum sempat aku tuntaskan.

Untukku, ulang tahun bukan berarti perayaan. Bukan juga ucapan selamat dari banyak orang. Namun jika ada doa, mengapa tidak? Aku mensyukurinya dengan segenap hati. Terutama, ketika orang yang terkasih mengingatnya selalu.

Tidak demikian dengan suamiku. Ia selalu lupa tanggal ulang tahunku. Entah faktor pekerjaan yang menjebak ingatan itu, atau khilaf yang seringkali ia sampaikan padaku.

Hampir enam tahun kami menikah. Dalam enam tahun itu, tak satu tahun pun suamiku mengingatnya tanpa kuberitahukan terlebih dahulu. Hingga suatu ketika, aku harus ke dokter untuk cek mata. Penyebabnya, mataku kelilipan sesuatu yang menyebabkanku tak mampu untuk melihat dengan normal.

"Maaf Bu, tolong diisi biodata ini dulu," pinta seorang suster padaku saat itu.
Namun berhubung penglihatanku tak bagus, aku pun akhirnya menyerah dan meminta tolong suamiku untuk mengisinya. Ketika sampai pada pengisian tanggal lahir, penanya terhenti. Semula aku tak mengerti mengapa. Namun saat kutengok formulir, suamiku lamat-lamat menanyakan sesuatu yang kurang jelas di telingaku.

"Apa, Mas..?" tanyaku berusaha memintanya untuk mengulang pertanyaannya.
"Yang ini aku lupa. Tanggal berapa, ya?" tanyanya dengan gugup sambil pena itu diarahkan pada kolom tanggal lahir yang harus diisi.
Aku sempat terdiam. Entah mengapa, ada rasa tak percaya.

"Masa tidak ingat, Mas..?" tanyaku tak percaya.
"Beneran lupa. Tanggal berapa?" pinta suamiku memaksa dengan sedikit berbisik agar tak sampai terdengar oleh suster yang berada tepat di depan kami.
Kusebutkan yang suamiku pinta. Di hati, ada rasa sesak yang sulit kutahan.

Selang tak lama kemudian setelah pengisian formulir, kami mencari tempat duduk. Di sudut ruangan kulihat ada bangku panjang yang kosong. Dekat dengan pohon yang lumayan besar. Kurasa itu cukup teduh dan ayem untuk sementara, sambil menunggu panggilan.

Selama masa penantian, air mataku menetes. Satu, dua, bahkan lebih yang sulit untuk kuhentikan. Aku berharap ini datang dari mata yang sakit, bukan hati yang kecewa.

Setelah dari klinik mata itu, perasaanku tak menentu. Banyak hal dan kejadian yang membuatku memilih untuk mengkilasbalik kehidupanku. Kehidupan kami yang penuh dengan tanda tanya yang tak pernah terjawab.

Hari ini, aku mencoba mencari tahu dengan mengambil pilihan keluar rumah. Sudah lama ini tak kulakukan. Entah, terakhir tahun berapa aku berjalan sendirian tanpa suamiku di sisiku. Kuharap refreshing bisa mengendurkan seluruh sarafku yang tegang.

Kulangkahkan kakiku tanpa ragu menuju tempat pemberhentian bis. Di sana, baru akan kuambil keputusan akan kemana setelahnya. Kurasa itu cukup adil, mengingat jurusan yang akan ditawarkan banyak pilihan.

Aku tak percaya, ketika kuinjakkan kakiku pada angkot jurusan kebun binatang. Entah, apa yang akan kulakukan di sana. Becermin pada kehidupan binatang di dalam kerangkeng. Mencari perbedaan yang nyata antaraku dengan mereka, atau mencari keadilan sendiri bahwa aku lebih baik dari mereka. Entahlah.

Selama dalam perjalanan, pikiranku kosong. Aku hanya menatap wajah-wajah lelah di pinggiran jalan atau orang yang lalulalang turun naik angkot. Akhirnya, di sebuah pasar tradisional, angkot ini berhenti cukup lama. Seorang nenek masuk dengan membawa bakul kosong. Aku meyakini nenek ini adalah salah seorang pedagang. Mungkin hasil jualan hari ini laris.

Kemudian, nenek itu memandangku. Ia tersenyum cukup ramah. Keringatnya menetes di kedua pelipisnya. Lalu ia usap dengan selendang batiknya yang sudah terlihat agak kumal. Ya, barang lama yang begitu berarti untuk meringankan gendongannya.

Lamunanku pun terpotong oleh nyanyian dari pengamen cilik. Seorang bocah perempuan yang kira-kira berusia sekitar delapan tahunan. Lagu Walau Habis Terang, Peterpan, bercampur dengan keriuhan suara klakson mobil di jalan. Aku mencoba menyimak lirik lagu itu, namun sulit karena suara vokal bocah itu begitu pelan, kalah oleh suara alat musiknya yang terbuat dari kayu dan tutup botol minuman yang dipipihkan.

Entah, apakah lagu itu cukup indah untuk didengarkan. Ia menyanyikannya cukup cepat, lalu segera menadahkan tangan meminta imbalan. Kurasa ia menyegerakan menyelesaikan lagu itu karena supir angkot mulai membunyikan mesin. Angkot pun berjalan perlahan-lahan dan si bocah berlalu dengan wajah sedikit kecewa. Mungkin imbalan itu tak sesuai dengan harapan.

Selama di perjalanan, aku mendengar nenek itu bercakap-cakap dengan teman di sebelahnya. Rupanya mereka sama-sama pedagang di pasar itu. Dari yang kudengar, nenek itu adalah penjual rempeyek tempe dan kacang. Sementara temannya, penjual sayur-mayur. Keluh kesah dari penjualan hari ini pun menjadi hiburan bagiku. Walau terkadang, aku cukup miris mendengarnya ketika sang teman mengatakan bahwa hari ini penjualannya tak sampai dua puluh lima ribu rupiah. Padahal di luar itu, ia harus segera menyetor uang pembayaran sekolah anaknya yang sudah menunggak dua bulan. Aku hanya bisa menghela nafas. Mimik itu tampak begitu sedih. Suaranya terdengar bergetar di antara nadi-nadi darahku.

Lima belas menit kemudian, ibu itu turun. Ia mengucapkan salam kepada nenek di sampingnya. Nenek itu segera menyelipkan buntalan plastik ke dalam genggaman ibu itu.

"Lho apa ini, Mbok Yem?" tanya ibu itu kaget sambil menunjukkan buntalan plastik pada nenek yang dipanggilnya Mbok Yem.
"Itu untuk tambahan biaya sekolah anakmu. Mudah-mudahan bisa membantu," jawab Mbok Yem sambil tersenyum.
"Haduh Mbok, jangan. Sudah, itu biar menjadi urusan saya. Ini dibawa saja..," pinta ibu itu.
"Ndak papa, anakmu lebih membutuhkannya. Aku masih punya pegangan," jawab Mbok Yem, menenangkan.
"Tapi Mbok…," desah ibu itu sambil mengulurkan buntalan plastik itu hendak mengembalikan.
"Sudah, sudah. Ndak usah dipikirkan. Kasihan anakmu. Sudah sana turun. Pak sopir sudah harus jalan…," pinta Mbok Yem, sambil menunjuk sopir angkot di depan.
"Matur nuwun nggih, Mbok. Gusti Allah yang membalasnya kelak…," ucap ibu itu dengan mimik bahagia bercampur haru.
Nenek itu pun, hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.

Angkot pun berjalan kembali. Darahku berdesir. Nenek ini sungguh luar biasa. Di kepalaku banyak sekali ucapan dan pujian. Tentang hal yang sulit untuk ditemukan di jaman individualis ini. Sebuah kebaikan dengan ketulusan hati. Dan ini, menyita banyak perhatianku. Karena ketika kusadari, di angkot hanya tinggal aku dan nenek tua itu.

Setelah sampai di tikungan dekat kantor polisi Pasar Kramat Raya, nenek itu mengetukkan jemarinya pada langit-langit angkot. Lalu keluar dan membayar angkot dengan uang pas. Aku pun ikut turun. Entah apa yang kupikirkan. Kuperhatikan, nenek itu memasuki sebuah gang kecil. Sebuah gang bertuliskan Jalan Anggrek Bulan. Nama yang cukup indah untuk sebuah jalan.

Dari kejauhan, kuikuti langkah nenek tua itu. Langkahnya tertatih-tatih. Mungkin usia yang menyebabkannya demikian atau beban berat yang selama ini digendongnya.

Pandangan mataku tak pernah lepas dari tubuh rentanya. Bahkan ketika nenek itu berhenti sejenak di sebuah warung sayur untuk mengambil sisa dagangan atau uang hasil penjualan yang mungkin ia titipkan di sana.

Jalan yang ia tempuh cukup jauh dari jalan raya. Kadang naik turun, atau berbelok-belok hingga memasuki gang yang lebih sempit dari gang utama. Cukup untuk dua orang jalan. Lalu berakhir di pemakaman Cina. Luas, sungguh luas. Sangat kontras dengan pemandangan di gang tadi. Begitu hening, senyap dan terasa damai.

Nenek itu berhenti tepat di bawah pohon beringin yang cukup besar. Aku tak percaya. Nenek itu menghilang begitu saja. "Mungkinkah ia hantu?" Pikirku seketika.

Ada rasa takut menyelubungi. Bulu kudukpun ikut berdiri. Kulihat, matahari hampir tenggelam. Suara adzan maghrib telah terdengar dari kejauhan. Tapi keyakinanku kuat, tak mungkin hantu berjalan di siang hari. Apalagi dengan segala percakapan di angkot tadi. Kulangkahkan kakiku mendekat pada pohon beringin itu. Di bawah pohon beringin itu, berdiri sebuah gubuk bambu berukuran kecil. Mungkin karena pohon beringin ini terlalu besar, gubuk ini jadi tak terlihat dari arahku tadi berdiri. Apalagi, di belakang pohon beringin ini ada beberapa pohon pisang berderet rapi.

Kulangkahkan kakiku mendekati gubuk tua itu. Ingin rasanya mengetuk pintu gubuk itu. Namun hatiku mencegahnya. Aku tak ingin mengganggu nenek tua itu. Mungkin ia kini sedang mengistirahatkan rasa lelahnya atau melepas kerinduan pada keluarganya di dalam gubuk.

Di depan gubuk itu, ada sebuah dipan kayu. Kurebahkan punggungku di atas dipan itu. Aku tak peduli kalau-kalau ada orang lewat menyapa. Tempat ini semakin gelap. Suara burung hantu semakin terdengar jelas. Mungkin karena ini area pemakaman, jadi tak ada lampu. Di gubuk tua itu pun, tak ada lampu listrik. Kulihat dari celah-celah angin, dua lampu teplok menyala di ruang tengah dan di salah satu sudut ruang. Mungkin itu kamar, tempat nenek itu membaringkan tubuhnya.

Kupejamkan mataku. Ternyata perjalanan dari tempat aku turun dari angkot hingga gubuk nenek ini membuatku kelelahan. Cukup jauh dan menguras tenaga. Atau mungkin pikiranku juga ikut menjadi salah satu penyebabnya. Aku pun terlelap seketika.

Sesuatu menyentuh wajahku. Satu dua kali, itu seperti tusukan, menghujam di keningku. Ketika aku terbangun, wajahku telah basah oleh air hujan. Gerimis mulai deras. Angin pun mulai meniup pepohonan di sekitar gubuk tua ini. Suara daun dari pohon beringin yang disapu angin dan hujan, terdengar mengerikan. Ingin rasanya kuketuk pintu gubuk itu. Namun, hatiku masih ragu.

Tiba-tiba, pintu gubuk itu dibuka. Setengah ember air dituang perlahan-lahan dari pintu depan. Kulihat, nenek tua itu yang melakukannya. Perlahan aku pun bangkit. Nenek itu begitu kaget ketika mendapatiku ada di sana. Mendekati, mengamatiku dengan cermat. Aku yakin, penglihatannya sudah mulai rabun. Kuperkenalkan diriku baik-baik. Namun nenek itu menarik lenganku masuk ke dalam gubuknya.

"Mbak ini siapa, ya? Malam-malam begini kok di luar gubuk Nenek..?" tanya nenek itu pelan.
"Ini saya Nek, yang satu angkot dengan Nenek tadi..," jawabku jujur.
"Satu angkot dengan Nenek…??" tanya nenek itu bingung.
"Iya, saya yang duduk pas di depan Nenek waktu di angkot tadi," terangku.

Lama nenek itu berusaha mengingat-ingat. Memandangku, lalu berusaha untuk mengingat-ingat kembali kejadian yang kukatakan.

"Saya numpang berteduh, boleh tidak, Nek?" tanyaku agak keras karena suara hujan di luar begitu kencang.
"Apa?" tanya nenek itu lagi sambil menutup pintu gubuknya rapat-rapat lalu menguncinya.
"Saya boleh menumpang berteduh di sini, Nek?" ulangku.
"Boleh.., boleh…," jawab nenek sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Tak lama, nenek itu segera berlalu ke meja di dekat dipan tempat nenek itu membaringkan tubuhnya. Di gubuk itu hanya ada satu ruangan. Ada dipan yang cukup untuk tidur dua orang, satu almari kayu, satu meja kecil yang berfungsi untuk meja makan dan dua kursi kayu. Di ujung yang lain ada peralatan memasak. Hanya kompor yang tak terlihat. Mungkin nenek memasak di luar.

Dua seduhan teh hangat sudah siap di meja. Satu ia berikan padaku.
"Minumlah. Bisa untuk menghangatkan tubuh. Maaf, Nenek tidak punya apa-apa. Seadanya saja ya, Mbak," ucap nenek itu sambil membuka satu toples yang isinya rengginang.

"Ini sudah lebih dari cukup, Nek. Terima kasih sebelumnya. Maaf, saya sudah merepotkan…," jawabku dengan perasaan yang serba tak enak.

"Tidak apa-apa. Tidak usah sungkan di rumah Nenek. Yaa, hanya ini adanya. Mudah-mudahan Mbak tidak takut berteduh di sini, di dekat pemakaman," ucap nenek itu sambil tersenyum ramah.

Aku pun hanya menjawab dengan senyuman.
"Nenek tinggal dengan siapa di sini?" tanyaku lembut.
"Nenek tinggal sendiri. Suami Nenek sudah lama berpulang," jawab nenek sambil menatap segelas teh yang mengepulkan asap.
"Nenek tidak takut tinggal sendirian di sini?" tanyaku lagi penasaran.
"Tidak. Takut apa? Nenek hanya takut pada Tuhan," jawab nenek cepat sambil tersenyum.

Tiba-tiba segala terasa hening. Aku merasa menemukan kedamaian di sini. Entah apakah suatu dosa ketika semua yang telah terjadi kuputuskan untuk pergi tanpa pamit pada suamiku. Sesuatu yang sengaja kulakukan dengan niat untuk refreshing, hingga aku menemukan sebuah gubuk yang nyaman dengan penghuninya yang ramah.

"Mbak, asalnya darimana dan mau kemana? Kok bisa sampai di sini?" tanya nenek itu tiba-tiba mengagetkan lamunanku.
Aku tercekat. Entah apa yang harus kujawab. Kulihat, sebuah mukena tersampir di tepi dipan. Sudah lama aku tak menjalankan kewajiban itu. Rasanya hidupku jadi tak karuan. Segudang masalah tak mampu kuselesaikan. Emosi dan nafsu membuatku menjadi lebih tak terarah. "Sudah sejauh itukah langkahku pergi dariMu, Ya Gusti..?" bisikku dalam hati.

"Kalau Mbak tidak punya tempat tinggal, tinggal dengan Nenek saja kalau mau. Tidak apa-apa. Tapi, ya begini ini keadaannya. Selama Mbak, betah, silakan. Nenek senang ada yang menemani," pinta nenek dengan wajah penuh senyuman dan ketulusan.

Aku tersenyum memandang wajah itu. Wajah yang begitu sejuk di masa tuanya. Wajah yang kurindukan dari seorang ibu yang sudah lama tiada.

"Ya Nek, saya akan tinggal bersama Nenek. Saya hidup merantau seorang diri," jawabku dengan nada yang perlahan namun yakin.

Dari langit-langit gubuk ini kubayangkan sebuah wajah yang mungkin takkan lagi kutemui. Satu wajah yang mungkin juga takkan pernah merindukan kehadiranku, atau baru menyadari betapa lama aku telah hilang dari hidupnya.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
-+-+-+-
Aku mengenalnya tak sengaja ketika membeli voucher pulsa di salah satu kedai di seberang tokoku. Ketika itu, aku sedang berdebat dengan Nina, penjaga kedai voucher tempat aku membeli pulsa. Masalahnya sepele, voucher yang kubeli empat hari sebelumnya belum terisi juga sampai sekarang. Menyebalkan memang, karena kejadian itu sudah lebih dari tiga kali. Pertama, telat masuk sehari. Kedua, telat masuk tiga hari. Dan kali ini sudah lebih dari empat hari, voucher yang kuisi secara elektrik, belum juga masuk. Penjualnya adalah kenalanku sendiri. Aku tak sengaja berkenalan dengannya ketika makan siang di warung tegal samping tokoku. Karena itulah, kepercayaan membuatku tak hendak hengkang mencari konter pulsa lainnya. Namun hari ini, aku kesal. Entah, mungkin suasana hati yang sedang tidak bersahabat.

"Jadi, gimana ini, Na..? Masa sudah lebih dari empat hari belum masuk juga, dan ini sudah berulangkali terjadi padaku?" tanyaku kesal.
"Maaf Ki, aku juga tidak tahu. Coba tunggu hingga besok. Jika belum masuk juga, nanti kutanyakan pada Mas Heru," jawabnya dengan nada sedih.
"Tidak bisa begitu dong, Na. Hari ini aku harus cepat-cepat menelepon supplier. Stok barangku sudah mulai menipis!" omelku kesal.
"Jadi gimana…?" tanyanya putus asa.
"Ya, tidak tahu. Kok malah tanya padaku?" omelku sengit.

Tiba-tiba, kudengar suara berdehem dari belakangku. Seorang perempuan muda menarik kursi yang ada di sampingku, dan segera mendudukinya. Ia tersenyum padaku. Aku tak begitu antusias untuk membalasnya. Suasana hatiku masih mendidih.

"Ditukar dengan uang saja, Mbak. Biar Masnya ini mencari konter pulsa di tempat lain. Kasihan, mungkin sudah kepepet sekali..," ucapnya ramah.
"Boleh juga tuh idenya. Sini, biar kuisi di konternya Adi," timpalku sambil melirik konter pulsa Adi yang berjarak lima toko dari kedai pulsa Nina.

"Mmm… gimana, ya? Aku takut dimarahi Mas Heru nanti…," jawab Nina ragu-ragu.
"Tidak papa, berikan saja padaku. Aku rasa, Heru akan mengerti. Toh hal ini sudah termasuk garansi untuk kepuasan konsumen juga," jawabku sedikit menenangkan.

Nina, lama terdiam. Aku pun semakin geram. Kuketuk-ketukkan jemariku di atas etalase kaca yang berada tepat di depanku. Perempuan di sampingku itu tersenyum padaku, ketika pandanganku kuarahkan padanya. Kemudian, Nina pamit sebentar ke dalam. Alasannya hendak membicarakan hal ini kepada Heru, pemilik kedai pulsa tempat dia bekerja.

Kuanggukkan saja kepalaku. Walau kesal itu belum juga hilang.
"Benar-benar tidak trampil. Masa begitu saja tidak berani ambil keputusan!" Gerutuku kesal.
"Sudahlah, Mas. Mungkin itu disebabkan karena dia di sini hanya karyawan. Beda dengan pemilik. Jadi sabar saja. Mas, tidak bisa menyalahkannya," ucapnya tenang.

Aku hanya menghembuskan nafas dalam-dalam dan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sebagai bahasa tubuh pasrah untuk sebuah jawaban. Kepalaku masih terasa pening, mengingat banyak sekali barang kosong yang harus segera kupesan. Bagaimanapun, besok siang Bu Ratna akan mengambil pesanan belanjaannya untuk katering. Telur, tepung terigu, minyak goreng, gula pasir dan lainnya benar-benar barang primer untuk kebutuhan esok hari. Sementara kalau order hari ini, baru akan diantar minimal besok pagi.

"Menyebalkan!" Gumamku tiba-tiba.

Kudengar perempuan di sampingku itu tertawa terbahak-bahak. Dia merasa, bahwa kekacauan yang terjadi padaku hari ini, seperti kelucuan baginya.

"Menarik!" Bisikku kesal.

Wajahku merah. Antara kesal juga senang, entahlah. Tapi wajah perempuan itu sungguh cantik ketika kulihat ia tertawa.

"Huh, andai dia bukan perempuan cantik, sudah kubogem dia!" bisikku dalam hati.

Sepuluh menit kemudian, Nina datang membawa beberapa lembar uang. Ia serahkan uang itu beserta kata maaf yang sudah kudengar puluhan kali. Kuambil uang itu, dan segera berlalu. Sebelumnya, kupandang perempuan itu lagi. Namun ia tak balik memandangku.

"Sekali lagi, menyebalkan!" Omelku dalam hati.

Kulangkahkan kaki dengan cepat menghampiri konter pulsa Adi. Sesampainya di depan etalasenya, ia langsung membanjiriku dengan banyak kalimat. Di antaranya, "Maaf, jaringan sedang error terus, Mas Hengki. Kemungkinan, akan ada trouble untuk pengisian ulang. Jikalau pulsa belum masuk, minimal besok pagi baru uang kembali. Gimana?" Dan lain sebagainya.

Hatiku bertambah geram. Bagaimana tidak. Di waktu yang amat sangat penting ini, cobaan menghadangku secara beruntun. Aku terdiam lemas di depan konter Adi. Harus kucari ke mana, sedang telepon umum jauh dari tokoku. Memakan waktu sekitar dua jam untuk sampai di kecamatan. Ya, desa terpencil seperti ini selalu dekat dengan resiko yang tak pernah bisa ditolerir.

"Nih, pakai saja hp saya. Tampaknya, Mas begitu membutuhkan. Pulsa saya banyak kok. Mungkin amal saya terlalu besar, jadi ketika pengisian lancar-lancar saja," ucapnya santai sambil tertawa kecil.

Kualihkan pandanganku dari hp itu ke wajahnya. Aku bisa melihat, wajah itu tulus.

Tanpa pikir panjang, segera kuhubungi supplierku. Alhamdulillah, barang akan dikirim esok pagi jam sembilan. Lega rasanya, seperti melepas beban berton-ton dari pundak.

Kuserahkan hp itu. Wajah itu terlihat begitu manis. Tak pernah berhenti untuk tersenyum. Sangat memikat.

"Terima kasih, Mbak. Benar, amal Mbak, sungguh membantu saya kali ini," ucapku senang sambil membalas senyumnya yang cukup menaklukkan hati.

"Sama-sama. Senang bisa membantu..," jawabnya ramah.

Lalu pergi begitu saja setelah memberikan salam padaku. Benar-benar perempuan aneh. Tak peduli siapa yang dibantunya. Jarang sekali jaman seperti ini, ada orang sebaik itu.

"Namanya Mbak Nissa, Mas. Ia istri Pak Chandra yang tinggal di samping Balai Pertemuan Rakyat. Orangnya baik, tapi jarang terlihat. Maksud saya, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah," cerita Adi tiba-tiba dari belakangku.

Aku membalikkan badanku ke arahnya. Kuambil kursi plastik merah yang terletak di tengah konter. Kuletakkan agak menyudut. Sengaja, biar aku bisa mengobrol sambil sedikit menyender. Rasanya, kekesalanku tadi di konter Nina, membuat urat-uratku tegang semua.

"Kok, kamu tahu banyak, Di? Jangan-jangan tipe pengintip, ya…?" godaku sambil memakan kacang goreng yang terletak tak jauh dari hadapannya.

"Ya, tahu. Dia kan tetangga saya. Lagipula, perempuan muda, cantik seperti Mbak Nissa, yang dapat lelaki jauh lebih tua kan, jarang. Dulunya, banyak orang yang suka membicarakannya. Ada yang bilang dia matre dan lain sebagainya. Cukup seru untuk didengarkan, sih," terang Adi, sambil ikut nimbrung menikmati kacang gorengnya.

Aku semakin penasaran dengan cerita Adi. Rasanya seperti mendengarkan siaran drama radio. Lumayan, untuk menghibur hati yang cukup tegang hari ini.

"Tapi, apa benar dia matre, Di…?" tanyaku penasaran.
"Setahu dari penglihatan saya selama ini sih, kayaknya tidak mungkin. Pertama, dari penampilannya, Mas Hengki lihat sendiri, kan dia tampil sederhana. Apalagi kalau di rumah. Biasa aja. Terus, jarang banget keluar rumah apalagi jalan-jalan ke mall," jawab Adi menegaskan.

"Gila kamu Di, sampai segitunya. Kamu pasti sering ngawasi dia dari rumahmu, ya?" godaku sambil menunjuk hidungnya.

"Sorry Mas, tidak juga. Eh, maksud saya, dulu memang. Habis gosip itu memancing keingintahuan saya. Terbukti, banyak orang yang tinggal di sekitar rumah saya, kini meyakini itu hanya gosip murahan," jawabnya sambil tersenyum ceria.

"Syukurlah kalau begitu. Btw, tadi dia membantuku jangan-jangan akan kamu gosipkan yang tidak-tidak…," godaku, sengaja membuatnya kesal.

"Ya tidak. Saya tahu sendiri Mas Hengki sedang membutuhkan," jawabnya tenang sambil tertawa-tawa kecil.

Setelah bolak balik bicara banyak hal, aku pun undur diri. Kuselesaikan tugasku hari ini.

Setelah senja, aku menutup tokoku. Malamnya, perasaanku bergemuruh. Rasa penasaran membuatku ingin sekali tahu banyak tentang Mbak Nissa. Entah sebab apa, aku pun tak tahu. Mungkin hal yang diceritakan Adi siang tadi menggoda keingintahuanku.

Esoknya, setelah Bu Ratna mengambil pesanannya, aku segera mampir ke konter pulsa Adi. Rasanya, ingin kuteruskan gosip kemarin. Ternyata benar, satu gosip menyebabkan keingintahuan baru meluas. Apalagi kalau gosip itu menarik.

Sesampainya di konter Adi, tak kutemukan dia. Menurut adiknya, Iwan, kakaknya hari ini demam. Jadi untuk sementara, ia menggantikannya.

Malam itu, aku tak bisa tidur. Bayangan Mbak Nissa, menari-nari. Terutama senyumnya. Begitu tulus, berbalut jilbab coklat muda dengan wajah kuning langsat. Ketika terpancar sinar matahari, menjadikannya terlihat seperti bidadari berwajah keemasan. Duh, indahnya.

Keesokkan harinya, pikiranku tetap tak tenang. Sebentar-sebentar kulihat konter Adi dari seberang toko. Sepi. Bayanganku, mungkin Adi belum sehat benar. Wajah Iwan, adiknya kulihat sedang melayani konsumen. Aku yakin tebakanku benar.

Setelah toko tutup, kuniatkan untuk menjenguk Adi. Kubeli buah di warung sebelah. Dengan begini, aku merasa akan lebih tenang. Walau mungkin ada berjejal hal yang kuinginkan lebih dari sekedar menjenguk.

Kustater vespaku. Kulaju kencang. Rasa penasaran itu membuatku ingin segera sampai di rumahnya. "Tak biasanya aku menjenguk orang sakit membawa buah, apalagi laki-laki. Kira-kira Adi akan bilang apa nanti..?," gumamku dalam hati sambil tertawa-tawa kecil.

Sesampainya di tikungan arah menuju rumah Adi, kulihat banyak orang ramai berkumpul. Rata-rata ada yang berdiri di pinggir atau pagar rumah masing-masing. Atau berjejer di rumah berpagar tinggi, bercat warna hijau. Setahuku, ini rumah Mbak Nissa, perempuan yang diceritakan Adi kemarin.

Karena jalan penuh, terpaksa kukendarai motorku perlahan-lahan. Lalu kuparkir tepat di depan pagar Adi. Motorku tak bisa masuk ke halaman, karena sudah dipenuhi orang. Hal itu semakin membuatku penasaran. Tampaknya, sesuatu yang menarik telah terjadi di sana.

Baru beberapa langkah kakiku menuju halaman, kudengar suara Adi samar-samar dari arah rumah Mbak Nissa. Perasaan membimbingku ke sana. Kulangkahkan kakiku menuju rumah itu.

Depan rumahnya padat dipenuhi warga sekitar. Terpaksa, aku harus sabar dan pasang senyum indah untuk meminta maaf ketika harus menyelinap di antara kerumunan orang. Di depan kerumanan itu, kulihat Adi begitu tenang berusaha menenangkan Mbak Nissa yang kutemui waktu di konter pulsa Ani. Wajah itu basah oleh air mata. Tubuhnya tampak lelah menyimpan beribu kekecewaan. Sebilah pisau lancip tergenggam erat di tangan kanannya. Sementara, seorang lelaki paruh baya, mungkin suaminya Pak Chandra, ikut menenangkannya. Entahlah, apa yang terjadi.

"Sudahlah Mas, aku lelah dengan kebohonganmu. Sampai detik ini pun, kamu tetap tidak bisa melupakannya. Cukup, engkau membohongiku. Sejak awal, ternyata engkau tidak mencintaiku. Aku benci padamu, pada kebohonganmu!" ucapnya lemah. Air mata itu terus mengalir di kedua matanya. Pisau mulai di acungkan di hadapan Pak Chandra. Tampaknya, Mbak Nissa, mengancam akan membunuhnya.

"Mbak, sudahlah. Jangan begini caranya. Kasihan Pak Chandra…," bujuk Adi.

Aku menatap wajah Adi. Ada kesedihan pun kekecewaan serta belas kasihan yang dalam. Wajah yang sama yang kudapati pada orang-orang di kerumunan ini.

"Dik, tolong, maafkanlah aku. Sudah ribuan kali kukatakan, aku sudah tidak ada apa-apa lagi dengannya. Aku sudah melupakannya. Aku tidak mencintainya lagi. Mengapa engkau masih tidak percaya hingga kini…," jawab Pak Chandra terisak.

Pak Chandra pun cukup terpukul dengan peristiwa ini. Tragis memang, mendapati istri yang begitu dicintainya menggenggam pisau tajam yang diacungkan padanya.

"Aku tidak percaya!" jawab Mbak Nissa, mulai memajukan pisau itu semakin dekat ke arah Pak Chandra.

Andai saja aku berada di belakangnya, mungkin bisa kurenggut pisau itu dari tangannya. Namun apa boleh buat. Di belakangnya hanya tembok, dan mata-mata yang memandanginya ini, semua berada tepat di depan Mbak Nissa.

Bulu kudukku merinding. Ngeri rasanya melihat kejadian itu. Tak menyangka tujuanku meraup gosip lebih besar, ternyata mendapat hal yang jauh lebih besar.
Adi memandangku. Ia mendekatiku yang jaraknya hanya dua langkah.

"Gimana ini, Mas Hengki? Sudah tiga jam Mbak Nissa begini. Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya kebingungan.

"Aku juga tidak tahu, Di. Aku baru datang. Ini masalahnya apa sih?" bisikku sambil berjaga-jaga.

"Kalau menurutku, hanya sekedar kesalahpahaman. Mbak Nissa yakin, Pak Chandra masih mencintai mantannya," jawabnya perlahan.

"Kok bisa begitu?" tanyaku heran.

"Ya, mana kutahu, Mas..," jawabnya sambil mengangkat kedua pundaknya.

Kami terus saling berbisik untuk mencari jalan keluarnya. Tapi pandangan kami tak lepas dari Mbak Nissa dan Pak Chandra. Khawatir jikalau pisau itu langsung ia hunuskan ke perut Pak Chandra.

"Maaf Mas, aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini.. Sakit ini benar-benar terasa amat menyayat hatiku. Sekali lagi, maaf…," ucap Mbak Nissa, pelan. Jleb!! Pisau itu menancap tepat di jantungnya.

Aku, Adi, Pak Chandra dan semua orang yang menyaksikannya tak percaya dengan pemandangan itu. Mungkin bukan aku saja yang berpikiran bahwa pisau itu diniatkan akan dihunuskan ke jantung atau perut Pak Chandra. Namun ke jantung Mbak Nissa sendiri? Ah, tubuh ini masih kaku dan tak mampu lagi mengedipkan mata.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ o0o ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Itulah beberapa "Cerpen Terbaru 2012" yang telah kamu baca, sebenarnya saya masih banyak koleksi cerpen 2012 yang lain. Maksud saya (koleksi cerpen terbaru) yang belum pernah di publish sebelumnya seperti pada puisi cinta 2012. Pada kesempatan lain saya akan perbanyak kumpulan cerpen terbaru 2012.


Cerpen Terbaru 2012
"Cerpen Terbaru 2012" Di Posting oleh blog , 10.28.2011, pukul Friday, October 28, 2011 dalam topik Cerpen dan permalink http://alvienrizki.blogspot.com/2011/10/cerpen-terbaru-2012.html. Nomer ID:5.2012.

Comments :

 
© 2012 Blog Gaul
Is Hosted by Blogger